Oleh: Nur Shollah
Amaliyah berasal dari kata amal, yaitu perbuatan. Atau yang sering kita kenal dengan sebutan amal perbuatan, dari dua kata yang berbeda tetapi artinya sama. Amal dapat juga dikenal dengan sebutan aktivitas, yang ruang geraknya lebih mudah untuk dilihat secara kasat mata (zhohir). Apakah amal perbuatan yang dikerjakannya itu adalah sesuatu yang baik atau buruk. Mulai dari sinilah, kita dapat memahami bahwa setiap amal perbuatan akan membuahkan hasil sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya.
Oleh karena itu, jika melakukan suatu perbuatan hendaknya harus dicermati terlebih dahulu baik dan buruknya. Setidaknya dapat memperhitungkan dengan beberapa pertimbangan. Terkadang yang semula kelihatannya ringan, tapi pada kenyataannya berat, terkadang pula sesuatu yang dianggap positif ternyata berdampak negatif. Dengan di balik itu semua tentunya ada yang menguntungkan dan juga merugikan, tinggal bagaimana cara kita mencermatinya dalam perbuatan tersebut.
Di samping itu, amal juga merupakan bagian dari bentuk pengabdian kita kepada ilahi. Misalnya perbuatan yang mengandung unsur ibadah, yaitu amal perbuatan yang baik untuk diri sendiri dan baik juga untuk umum (public). Dengan demikian, seseorang yang rajin menanamkam amal ibadah dengan dilandasi keikhlasan, maka akan mendapatkan ganjaran pahala atau keberkahan untuk dirinya.
Ada kenikmatan tersendiri yang dirasakan dalam dirinya pada saat melakukan aktivitas, seperti halnya suatu pekerjaan dapat dijadikan sebagai bentuk hiburan, sehingga hidupnya tidak merasa sepi dan hatinya tidak kosong (larut dalam khayalan). Bahkan, dari hasil kerjanya itu membuahkan ketentraman jiwa karena segala kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi. Oleh karena itu setiap pekerjaan hendaknya dinikmati dengan rasa senang hati dan penuh keikhlasan.
Sebagai manusia tentunya tidak terlepas dari kebutuhan primer, yakni sandang, pangan serta papan, maka harus mampu mencari karunia berupa nafkah (rezeki) dengan secukup mungkin. Dalam hal ini, seseorang yang mampu memiliki segala kebutuhannya, maka dapat dikatakan sebagai orang yang sukses. Berusaha dan bekerja keras adalah hal yang memungkinkan bahwa semua itu dapat diraih, tentunya kita termasuk segolongan orang-orang yang beruntung di muka bumi ini.
Terserah kita mau mengambil jalan yang mana, asalkan saja tidak dengan cara-cara yang diharamkan apalagi sampai merugikan orang lain. Dengan kita berbuat amal (bekerja) hanya sebatas urusan dunia, yang perlu di ingat adalah bahwa kita hidup tidak hanya di dunia, suatu saat akan mati juga. Dengan kita berbuat amal hanya sebatas urusan akhirat, tentunya ada yang harus difikirkan bahwa kematian belum tentu datang esok hari, dan belum tentu pula akhirat itu akan diperolehnya. Alangkah lebih baik kalau kita menjalani kehidupan itu dengan seimbang antara dunia dan akhirat. Kelak kita akan mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan di dunia maupun di akhirat.
Menjadi orang yang sukses tidaklah mudah, tidak seperti yang kita bayangkan dengan membalikkan telapak tangan. Semua itu harus melalui sebuah proses, meskipun rintangan dan cobaan menghadang, karena hidup adalah sebuah realitas yang penuh dengan persaingan, maka modal yang utama yaitu konsisten (istiqamah). Bukan hanya itu saja, bahkan bertaburkan onak dan duri, kalau tidak didasari dengan kesabaran dan ketabahan hati, mudah putus asa serta patah semangat kemudian berhenti di tengah jalan, maka kita akan tertinggal jauh oleh mereka yang tekun dan gigih dalam berjuang.
Sifat malas adalah suatu penyakit, apabila dibiarkan terus-menerus maka akan memperburuk diri sendiri. Penyakit seperti inilah, yang seringkali hinggap kepada siapa saja tanpa terkecuali. Maka, cara mengatasinya yaitu dengan dimulai sejak dini kita harus membasminya dan memeranginya, yakni dengan cara melatih diri. Usahakan untuk selalu rajin bekerja dengan mencintai pekerjaan. Dengan begitu, apapun bentuk pekerjaannya pastilah akan mudah untuk dikerjakan, kita bisa karena terbiasa.
Kunci dari kemampuan adalah yakin terhadap diri sendiri, tidak terpengaruh dengan gunjingan orang lain, namun harus dilandasi dengan perbuatan yang diridhai Tuhan. Usaha memang benar kita yang menjalaninya (syareat), tetapi yang menentukan adalah kehendak Tuhan (hakekat). Hendaknya setiap perbuatan harus diiringi dengan doa, agar tidak terlepasan dari nafsu syetan yang selalu menggoda iman. Sedangkan, berbuat tanpa berdoa adalah bentuk dari kesombongan, yang hasilnya tidak akan pernah berkah dan selalu terjebak pada kesalahan-kesalahan.
Bila kita beramal, hendaknya didorong oleh hati yang tulus ikhlas. Jangan pernah mengharapkan imbalan yang lebih, dan jangan mengharapkan pujian dengan maksud ingin dikenal sebagai seorang dermawan. Dengan kita beramal tanpa mengharap imbalan atau pujian, tentu suatu saat kita akan memetik hasilnya kelak, entah kapan wallah ‘alam.
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada siapa saja yang berbuat amal kebajikan, maka akan dilebihkan dari sekedar apa yang diharapkan. Amin!
