<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Oleh: Nur Shollah
Ketika seseorang mulai merasakan sesuatu yang mengganjal pada dirinya, itu menandakan ia harus merenungkan segala hal yang sedang dialami. Banyaknya problem yang merasuki jiwa dan perasaannya, maka otak dan hati atau yang disebut dengan akal mulai berfungsi (aktif) disebabkan oleh tuntutan kehendak, dengan begitu ia akan lepas dari segala beban yang menghantuinya.
Otak adalah bagian akal yang berupa mesin untuk menyimpan memory dari apa-apa yang diterima melalui penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Otak juga berfungsi untuk menciptakan ilmu pengetahuan dari segi zhohir (falsafah). Sedangkan hati adalah bagian akal berupa yang pelumas agar mesin tidak cepat panas; karena tanpa pelumas mesin tidak akan berjalan, dan pelumas juga melindungi mesin dari kerusakan-kerusakan fatal. Hati berfungsi sebagai rasa yang dapat membuahkan ilmu pengetahuan dari sudut bathin (tasawuf).
Dari sekian banyak orang memiliki berbagai macam pemikiran yang berbeda, sesuai dengan kedudukan dan bidangnya masing-masing. Namun, sedikit sekali orang yang mampu menciptakan hal baru, karena ia mau menyempatkan dirinya untuk berpikir, dan terbiasa oleh keadaan yang mengharuskan ia melakukan sebuah aktifitas, sebab ada kejenuhan tersendiri ketika ia diam dan tak bergerak dengan membiarkan akalnya dalam keaadaan hampa (tidak berbuat apa-apa).
Dalam hadits Rasulullah saw memberikan definisi “Akal adalah nur di dalam kalbu yang berfungsi untuk memisahkan antara haq dan bathil”. Kalbu adalah ungkapan dari kata dasar yang berarti segala sesuatu dicerna oleh otak kemudian diresapi oleh hati. Akal pertama kali difungsikan yaitu melalui sudut pandang hukum (norma) yang di dalamnya terdapat perbandingan dan aturan-aturan, maka diperlukan pemikiran yang cemerlang untuk membedakan antara kebenaran dan kebathilan serta untung ruginya dalam kehidupan, dari lingkungan yang selalu berubah karena kondisi yang semakin lama semakin berkembang pesat, sehingga kebutuhan-kebutuhan itu harus terpenuhi.
Dari masalah etika, sosial, politik, budaya, seni, dan ekonomi; bahkan zaman pun telah menuntut pada kebutuhan tehnologi sebagai sarana pelengkap yang keberadaannya dapat mempermudah segala bentuk aktifitas kehidupan. Maka, akal tidak lagi digunakan hanya sebatas pada bidang hukum saja, melainkan sangat kompleks dan universal.
Para filosof terkemuka di dunia telah banyak menyumbangkan pemikirannya sebagai sumber ilmu pengetahuan. Mereka adalah golongan orang-orang yang bertaqwa, yang selama hidupnya dihabiskan untuk berfikir, sedikit sekali membuang waktunya untuk bersantai, bahkan pada malam hari pun ia tidak memanfaatkan untuk beristirahat (tidur) lebih banyak.
Setelah mereka menemukan beberapa penemuan baru (Discovery) , terlebih dahulu dimusyawarahkan pada kalangan filosof lain untuk membandingkan ke-khalayak-an temuannya itu, lalu dipublikasikan. Namun, dengan demikian penemuan-penemuan itu tidak selesai sampai di sini saja, melainkan masih dalam proses perbaikan dan pembaharuan (renovation and innovation of process), karena kita ketahui bahwa pengetahuan itu sangat luas dan dalam; hingga pada kesempurnaan yang benar-benar sempurna, hanya orang-orang berfikirlah yang dapat melakukan hal itu.
Tiada perubahan tanpa pergerakan, bergerak dalam arti memfungsikan akal, sebab pergerakan hanya ada pada kamus orang-orang yang selalu menghendaki adanya perubahan, pergerakan yang dapat membuahkan hasil adalah berfikir dengan didasari ilmu pengetahuan.
Begitu banyak ilmu pengetahuan di muka bumi yang masih harus di gali, ini bagian tugas dan tanggung jawab kita sebagai manusia sempurana (insan kamil), yang telah diberi akal serta kemampuan untuk menciptakan kehidupan manusia menjadi lebih baik.
Hanya orang-orang ter-tentu-lah yang akan diberi kebaikan-kebaikan. Seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an, bahwasannya Allah swt berfirman: “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang di beri hikmah, sungguh telah di beri kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal (ulul-albab)”. (Q.S. 2 : 269).
Hikmah adalah makna yang terkandung berupa pengalaman atau wawasan pada bidang ilmu pengetahuan. Jadi, hikmah itu hanya diper-untuk-an kepada orang-orang berakal yang dapat mengambil pelajaran dan mau mempelajarinya. Bagi seseorang yang mempunyai keahlian pada bidang tertentu, maka dengan sendirinya akan berguna bagi khalayak orang banyak, dan dia adalah segolongan orang beruntung karena telah diberi kebaikan yang banyak.
Pengetahuan adalah tidak lebih dari sebuah persepsi. Seseorang yang mengetahui sesuatu berarti mempersepsi sesuatu yang ia ketahui itu. Maka persepsi senantiasa adalah sesuatu yang ada (is), dan sebagai pengetahuan, persepsi tak mungkin keliru. Yang menjadi obyek dari pengetahuan atau persepsi adalah manusia, karena manusia adalah ukuran segala sesuatu yang dalam keaadaan mengalir.
Maksudnya, dalam keadaan bagaimanapun dengan sendirinya manusia dapat mem-persepsi-kan sesuatu disebabkan oleh keadaan itu sendiri. Dari keadaan tersebut seseorang akan mendapat rangsangan (stimulus) untuk melakukan sesuatu yang terlintas dari benak fikirannya.
Dari sinilah otak dan hati seseorang mulai terpancar karena telah menerangi isi dunia dengan ilmu pengetahuan. Seseorang dapat dikatakan hidup dengan sebenar-benarnya hidup adalah orang yang selalu memfungsikan akalnya untuk berfikir, berarti ia telah melakukan sebuah aktivitas yang dapat menggerakan nilai dan sendi-sendi kehidupan. Pribahasa barat mengatakan: “Life is activity, and activity is trugle”, “Kehidupan adalah aktifitas, dan aktifitas adalah perjuangan”. Berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan sempurna.
Sekian dan Wassalam.
