<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Oleh: Nur Shollah
Di bilang ada, secara kasat mata tidak ada. Di bilang tak ada pun naluri terkadang muncul suatu keyakinan sedang berada. Punya nama tapi tak punya bentuk, adanya itu tidak kelihatan. Dia adalah sesuatu yang semu dan abstrak, hanya perasaanlah yang terdapat dalam jiwa seseorang mengatakan bahwa Dia ada.
Untuk dapat mengenali Tuhan bukan hanya sebatas apa yang selama ini diperkenalkan. Perkenalan lewat kabar atau dengan berjabat tangan, melainkan dengan sentuhan kalbu. Setiap manusia berhak untuk mengenali siapa Tuhannya, Namun harus dengan cara-cara yang disenangi oleh Tuhan. Apa itu?, yakni dengan berperilaku seperti sifat-sifat Tuhan.
Tuhan tidak senang dengan segala bentuk kejahatan, Tuhan tidak senang dengan hal-hal yang buruk, dan tidak menghendaki kemunafikan serta segala sesuatu bentuk kemusyrikan. Tuhan senang pada orang-orang yang lemah lembut dan berbuat kebaikan, Dia menghendaki orang-orang yang selalu jujur dan tidak terjebak pada urusan duniawi semata. Dari segi itulah Tuhan akan dekat dengan dirinya.
Bila kita tak mengenal siapa itu Tuhan, senantiasa Dia tidak akan memberi rasa kasih sayangnya pada kita. Seandainya rasa kasih dan sayangnya itu tak pernah kita dapatkan, maka tak ada rasa cinta antara antara Tuhan dengan kita. Karena cinta itu hanya ada apabila kita saling mengenal dan saling menyayangi.
Bagi siapa saja yang merasa dekat dengan Tuhannya, kemana saja ia melangkah Tuhan akan selalu mengiringi. Karena jiwanya itu sudah melekat dan menjadi satu dengan Tuhan (wahdatul wujud).
Berarti keberadaan Tuhan itu benar adanya. Kita dapat merasakan bahwa Tuhan itu ada, karena adanya kebenaran. Siapa saja yang selalu berbuat kebenaran, maka di dalam jiwa orang itu benar-benar ada Tuhan.
Dia selalu bersamanya pada setiap waktu, selalu menyertai kemana kaki melangkah dan memberi perlindungan untuk keselamatan dirinya. Karena Tuhan tidak akan pernah membuat dirinya itu dalam keadaan celaka dari segala marabahaya.
Jadi, kita tahu bahwa dzat Tuhan itu bukan merupakan jenis yang dapat dikenali dari segi bentuk wajah dan rupanya. Melainkan dzat Tuhan itu hanya merupakan dari sifat, yakni sifat Maha dari segala-galanya yang wajib dan boleh ada.
Biasanya, sifat-sifat itu bisa kita lihat dengan apa yang telah digambarkan dan dicontohkan oleh seorang Rasul atau Nabi, bahkan kita dapat melihatnya pula seperti yang telah dilukiskan oleh para Sahabat, Tabiāin, Wali Allah, ulama, atau sebagainya. Termasuk pada diri sendiri pun bila kita mau introsfeksi, sebenarnya sifat-sifat itu selalu ada.
Dengan begitu kita dapat meyakini, bahwasannya Tuhan itu ada, Namun adanya Tuhan hanya dapat dirasakan oleh perasaan yang selalu merasa dengan segala bentuk kebenaran. Wassalam.
